[FRS 02] Golok Tjiomas, Tangguh Banten abad XX/1940, Pamor Rajah Arab, Hulu tanduk, Warangka kayu terbungkus kain hitam, berat 330gram, panjang 25,7cm. Sertifikasi Museum Pusaka TMII
Tosan aji tidak terbatas hanya keris saja tetapi juga bentuk lain seperti tombak, golok, kujang, badik dan sebagainya. Selain keris, koleksi yang juga saya miliki adalah golok Tjiomas Banten. Golok ini adalah pemberian kawan baik saya di Bandung saat saya masih suka keluyuran di waktu muda dulu. Bilahnya sangat tebal dan cukup berat tapi diimbangi juga oleh hulunya yang terbuat dari tanduk. Golok ini dipenuhi rajah huruf Arab dan juga mencantumkan '1940' yang kemungkinan besar adalah tahun pembuatan. Selain itu, bilah golok ini juga agak lengket karena minyak wangi non alkohol yang sudah ada sejak saya terima. Hal yang menarik dari golok Tjiomas bukan saja soal mantapnya genggaman tetapi juga adanya sistem kunci tersendiri untuk membuat golok tetap atau terlepas dari sarungnya. Cara tersebut cukup dilakukan dengan tahanan ibu jari untuk membuat golok bisa langsung dihunus atau terkunci sehingga tidak akan lolos secara tak sengaja. Sistem tersebut merupakan ciri khas golok lama yang sepertinya jarang terdapat pada golok lain yang lebih baru.
Tosan aji tidak terbatas hanya keris saja tetapi juga bentuk lain seperti tombak, golok, kujang, badik dan sebagainya. Selain keris, koleksi yang juga saya miliki adalah golok Tjiomas Banten. Golok ini adalah pemberian kawan baik saya di Bandung saat saya masih suka keluyuran di waktu muda dulu. Bilahnya sangat tebal dan cukup berat tapi diimbangi juga oleh hulunya yang terbuat dari tanduk. Golok ini dipenuhi rajah huruf Arab dan juga mencantumkan '1940' yang kemungkinan besar adalah tahun pembuatan. Selain itu, bilah golok ini juga agak lengket karena minyak wangi non alkohol yang sudah ada sejak saya terima. Hal yang menarik dari golok Tjiomas bukan saja soal mantapnya genggaman tetapi juga adanya sistem kunci tersendiri untuk membuat golok tetap atau terlepas dari sarungnya. Cara tersebut cukup dilakukan dengan tahanan ibu jari untuk membuat golok bisa langsung dihunus atau terkunci sehingga tidak akan lolos secara tak sengaja. Sistem tersebut merupakan ciri khas golok lama yang sepertinya jarang terdapat pada golok lain yang lebih baru.






