Tampilkan postingan dengan label Tombak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tombak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Tombak Dhapur Biring Lanang






[FRS 15] Tombak Lurus dhapur Biring Lanang, pamor Tirto Tumetes, estimasi tangguh Mataram abad XVII, berat 450gram, panjang 28,5cm,  methuk Iras, warangka kayu Awar-awar, Landeyan 1 hasta. Sertifikasi Museum Pusaka TMII.


Tombak dhapur Biring Lanang adalah salah satu dhapur tombak lurus dengan bentuk bilah yang agak pipih dan simetris, Bentuk tombak ini hampir serupa dengan tombal dhapur Biring Drajit. Bangkekan atau pinggangnya ramping dan merupakan lekukan dalam. Bagian bilah yang yang terletak di bawah bangkekan lebih lebar dibandingkan dengan lebar bilah yang di atas pinggang. Di tepi bilah bagian pangkal ada bagian yang menyudut.

Tombak dhapur Biring Lanang memakai ada-ada tipis di tengah bilahnya. Permukaan bilah yang terletak di bawah pinggang bentuknya ngadal meteng. Koleksi saya di atas merupakan memiliki estimasi tangguh Mataram abad XVII dengan methuk Iras atau bagian cincin di pangkal tombak menyatu dengan bilahnya. Hanya saja sepertinya kinatah di bagian methuk merupakan susulan pada masa berikutnya, dengan estimasi Nom-Noman atau semasa Hamengkubuwono V.

Sabtu, 18 Juni 2011

Tombak Dhapur Kudup Gambir





[FRS 13] Tombak Lurus dhapur Kudup Gambir, pamor Pedaringan Kebak, estimasi tangguh Mataram abad XVI, Panjang Bilah 25cm, Panjang Peksi 19 cm, berat 170 gram, Warangka Kayu Jati, Landeyan Kayu Jati 50 cm. Sertifikasi Museum Pusaka TMII.

Dhapur Kudup Gambir atau Ngudup Gambir adalah salah satu dari 4 macam bentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai kuncup Bunga Gambir yang belum mekar, banyak terdapat pada ujung tombak.

Pamor Pendaringan Kebak juga mirip Wos Wutah, tetapi Pendaringan Kebak lebih penuh dan rapat serta nyaris memenuhi seluruh permukaan bilah. Dari bawah sampai ujung bilah dan dari tepi satu ke tepi yang lainnya.

Rabu, 15 Juni 2011

Tombak estimasi tangguh Mataram







[FRS 05] Tombak luk 11 dhapur Carita/luk 13 dhapur Korowelang(?), pamor Ngulit Semangka, estimasi tangguh Mataram abad XVII, hulu landeyan pendek kayu Sono sepanjang satu hasta, warangka atau tutup tombak kayu Jati, berat 470gram, panjang 39cm, slongsong dan tunjung lapis emas. Sertifikasi Museum Pusaka TMII.

Menimbang dan menilai aspek eksoteris tombak jauh lebih sulit dibandingkan keris. Mengapa demikian? Keris memiliki ricikan yang terperinci dan jelas sementara tombak hanya terdiri dari tiga bagian yakni sor-soran (bagian pangkal), awak-awak dan pucuk. Bentuk sor-soran tombak hingga pucuk tersebut sangat variatif dan begitu juga dengan dhapur serta bilahnya (ada bilah tunggal hingga Pancasula yang berbilah lima sementara bilah keris hanya satu). 

Itulah sebabnya menghitung luk pada tombak bukan perkara yang mudah seperti pada bilah keris. Contoh yang jelas adalah koleksi saya di atas. Ada yang mengatakan bahwa dhapur tombak tersebut adalah Carita karena jumlah luknya sebelas. Saya pribadi berpendapat bahwa tombak koleksi di atas adalah berluk 13 dengan demikian juga dhapurnya adalah Korowelang karena berbentuk seperti ular meski ada juga Korowelang yang berluk 9 atau 11. Bilah tombak di atas cukup panjang namun untuk alasan praktis, landeyan atau kayu tangkai tombak yang digunakan hanya berukuran pendek. Kayu Sono cukup ringan namun sepertinya tidak sebanding dengan kayu Jati sebagai tutup tombak yang jauh lebih berat. Akibatnya, berat tombak bisa menjadi tidak seimbang. Selain itu, kelemahan kayu Jati yang berat itu bisa membuat tombak menjadi macet untuk bisa dikeluarkan dari slongsongnya.

Sementara pamor Ngulit Semangka adalah jenis pamor mlumah dan umum terdapat pada tosan aji. Pamor ini coraknya seperti kulit semangka dan dari aspek esoteris dianggap sebagai pamor yang tidak pemilih, memudahkan jalan mencari rejeki dan mudah bergaul dengan siapa saja dari golongan manapun.