Minggu, 21 Agustus 2011

Keris Dhapur Singo Barong








[FRS 24] Keris luk 9 dhapur Singo Barong pamor Ilining Warih, estimasi tangguh Madura Sepuh abad XV, panjang 35,6cm berat 140 gram, warangka branggah Yogya kayu Jati Gembol, deder kayu Jati Gembol, pendok Bunton sepuh Perak. Sertifikasi Museum Pusaka TMII. 

Dhapur Singo Barong adalah keris yang bagian gandiknya diukir dengan bentuk kepala singa mirip kilin, yakni arca binatang mitologi penunggu gerbang dari Cina. Arca semacam ini banyak terdapat di kelenteng dan menunjukkan pengaruh budaya Cina di Nusantara. Ricikan keris dhapur Singo Barong biasanya menggunakan sraweyan, ri pandan dan greneng. Dhapur ini juga bisa disebut dhapur Naga Singa. Selain gandik yang diukir berbentuk singa, dhapur ini juga biasanya menampilkan kelamin yang tegang sebagai simbol kejantanan. Mulut singa juga biasanya disumpal emas atau batu permata yang konon tujuannya adalah untuk meredam aura panas atau penampilan sifat galak dari keris dhapur SIngo Barong ini. Berbeda dengan keris dhapur Nagasasra yang melambangkan kebijaksanaan dan kekuasaan seorang raja, dhapur Singo Barong merupakan simbolisme kekuasaan dan ketegasan yang dimiliki tidak saja seorang raja tetapi juga patih dan senopati perang.

Pamor Ilining Warih atau disebut juga pamor Banyu Mili adalah pamor yang menyerupai garis-garis  yang membujur dari pangkal ke ujung bilah. Pamor ini tergolong pamor rekan yang bentuk gambarnya dirancang oleh empu. Banyak orang menganggap pamor ini tidak pemilih memiliki tuah untuk melancarkan rejeki dan memperluas pergaulan. Pemiliknya akan mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat. Sepintas pamor Ilining Warih mirip degan pamor Adeg, hanya bedanya pamor Ilining warih tidak sehalus pamor Adeg. Garis-garis pamor Ilining Warih juga berkelok-kelok menampilkan kesan seperti air yang mengalir.

Keris koleksi saya diatas memiliki estimasi Madura Sepuh sejaman dengan Mataram Senopaten. Hal yang menarik adalah selain kayu Jati Gembolnya yang mengkilap, bagian belakang pendok terdapat huruf Honocoroko dengan tulisan 'Pendhok Agpus' yang merupakan singkatan dari  pendok ageman pusaka. Bisa jadi keris tersebut dahulu merupakan keris ageman seseorang dalam pengertian sebagai perangkat simbolis jabatan tertentu. Pendoknya sendiri saya sempat kirim ke Solo untuk dilapis perak ulang mengingat lapisan perak yang lama telah luntur dan membuat bahan dasar kuningannya menjadi terlihat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar