Selasa, 28 Juni 2011

Keris Bertuah dan Kecocokan Dengan Pemiliknya

Saya termasuk orang yang skeptis dengan pemahaman bahwa tosan aji atau keris pada khususnya adalah benda yang memiliki isi berupa jin, penunggu atau khodam, atau istilah-istilah lain yang baru muncul ketika agama-agama samawi mulai mapan di Nusantara ini. Tidaklah mengherankan jika hingga sekarang orang mengkaitkan keris dengan klenik, tahyul, mistisisme, gaib dan ketakutannya terhadap hal-hal yang bersifat kasat mata tersebut. 

Keris sendiri sudah ada sejak kebudayaan Dong Son menyebar di Asia Tenggara sejak 200 SM, jauh sebelum penyebaran agama Hindu Budha bahkan Kristen dan Islam yang baru muncul kemudian. Dengan demikian tentunya aneh jika keris yang masih ada, katakanlah pada masa pra Islam kemudian dicecari oleh pemahaman yang baru muncul kemudian dan membawanya kepada perbuatan yang dianggap menyekutukan Tuhan, musyrik sehingga membuat keris dibuang, dilarung atau dipendam di dalam tanah. Sesungguhnya, kedatangan agama-agama Hindu Budha hingga Islam adalah bukan saja untuk mempertebal spiritualitas tetapi untuk mencerahkan akal dan menambah aspek pengetahuan yang bersifat rasional. Lantas mengapa hal tersebut terjadi? Pertemuan antar budaya satu dengan yang lain tidak dianggap saling melengkapi melainkan saling mengikis satu sama lain. Ketidaktahuan bukan lantas mencoba untuk mencari tahu, tetapi justru membuat diri berada di dalam tempurung kebodohan. Kemalasan juga yang memperlakukan agama dan kebudayaan hanya berhenti sekedar kepada pertanyaan-pertanyaan tentang mana yang boleh dan tidak boleh. Jawaban dari pertanyaan yang bersifat oposisi biner tersebut yang kemudian dipegang erat-erat sehingga mempersalahkan orang lain dan menganggap diri sendiri yang paling benar. Erosi pemikiran inilah yang kemudian membuat kebudayaan, rasa seni dan estetika menjadi tumpul. Buah kebudayaan seperti tosan aji direduksi maknanya habis-habisan sebagai produk 'jahiliyah' yang kalaupun digunakan hanya sebatas pada pemanfaatan yang bersifat mitos, tahyul dan klenik untuk membentengi situasi politik tertentu pada jaman tertentu. Misalnya saja, cerita tentang pertempuran keris Sengkelat dan Sabuk Inten melawan Condong Campur dipahami secara tekstual dan harafiah. padahal mitos itu diciptakan sebagai tafsir situasi politik pada akhir Majapahit itu sendiri ketika golongan sakit hati (Sengkelat) menguasai massa (Condong Campur) setelah golongan borjuasi (Sabuk Inten) menyingkir.

Demikian pula pemahaman terhadap keris yang dianggap memiliki tuah atau kekuatan yang dibantu dengan jin, penunggu, isi atau gaib yang ada didalamnya. Buat saya tidak ada keris yang tidak baik, karena pada dasarnya keris yang diciptakan oleh seorang empu tentunya juga memiliki niatan yang baik. Entah keris tayuhan atau apapun, jika seorang empu hendak membuat keris tersebut tentunya diiringi oleh do'a. Permohonan seperti itu memiliki kekuatan berupa energi, sama halnya dengan do'a yang diucapkan secara sungguh oleh orang dalam sehari-hari. Hanya saja energi do'a dari empu tersebut juga memiliki kadar dan tingkat fokus yang tinggi dibarengi oleh ritual yang ia lakukan. Do'a memperkuat niat dan intensitas pembuatan keris diobarengi oleh segenap ricikan baik dhapur maupun pamor keris yang ia inginkan. Cocok tidaknya keris tersebut dengan pemesannya tentu disesuaikan juga oleh empu tersebut. Misalnya keris dhapur Pulanggeni, tentu saja dibuat dengan tujuan berupa aura kewibawaan, kharisma dan keunggulan dalam peperangan sehingga pemesannya pada jaman dahulu adalah seorang pemimpin pasukan.

Akan tetapi di jaman sekarang, sangat jarang orang bisa memesan kepada empu. Kalau pun ada tentunya akan sangat mahal. Cara yang paling praktis adalah membeli (dengan istilah 'memahari' atau 'memberi mas kawin'). Disini masalah kecocokan berbicara lain. Sering orang membeli karena preferensi berupa sekedar suka atau bahkan ingin memiliki dibandingkan dengan melihat kebutuhan intrinsik yang lebih dalam. jika keris dhapur Pulanggeni atau Singobarong sepuh tadi berpindah tangan ke seorang pedagang, maka jelas aura yang muncul tidak cocok. Bagaimana mungkin seorang pedagang yang membutuhkan aura berupa keluwesan, pergaulan dan pencarian rejeki material tersebut berhadapan dengan aura kewibawaan, kharisma dan keunggulan dalam peperangan? Jelas saja para pelanggan si pedagang bisa menjauh karena ketidak cocokan tersebut. Sama saja dengan pejabat negara yang membeli keris dhapur Sabuk Inten dengan aura berupa kekayaan material dan rejeki dalam berusaha. Baik kekayaan material dan rejeki dalam berusaha jelas tidak mengandalkan keris Sabuk Inten, melainkan dengan berusaha sebaik dan sejujur mungkin dalam berbisnis. Keris dhapur Sabuk Inten tidak mendatangkan kekayaan, melainkan hanya mempertegas simbolisasi dan aura yang dimilikinya. Itulah sebabnya dhapur keris ini banyak dicari oleh pebisnis atau pengusaha. Jadi untuk apa kekayaan bagi pejabat negara? itu pertanyaan politik yang tidak harus dijawab di tulisan ini.

Dengan demikian, sebilah keris bertuah tidaklah mengandalkan sebutan apapun yang bersifat mistis, klenik atau tahyul. Sebilah keris memiliki tuah karena do'a si pembuat dan aura dari ricikan, dhapur dan pamornya yang memberikan simbol dan makna terhadap apa yang dikerjakan dan dijalani oleh si pemiliknya. Memiliki keris bertuah di jaman sekarang bukanlah hal aneh dengan membeli, sepanjang proses tersebut disadari betul oleh calon pemilik sebagai upaya simbolisnya untuk mempertegas apa yang dikerjakan sehari-hari atau apa yang dicita-citakan kelak, sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan atau berupaya menambah pengetahuan di bidang tosan aji. Cocok atau tidak cocok, lihatlah dari ricikan, dhapur dan pamornya untuk menentukan auranya, karena anda tidak mungkin bertanya kepada pembuatnya kecuali anda punya uang untuk memesannya langsung kepada empu.

 Itulah sebabnya menjadi konyol, ketika membeli keris hanya untuk mencari isi, gaib, jin atau setan gundul didalamnya dan membuat orang lain berpikir bahwa hal-hal tersebut sudah sepantasnya dianggap musyrik, menyekutukan Tuhan atau gila sekaligus. Memiliki keris juga harus mempertimbangkan rasionalitas akal sehat seperti kemampuan merawat, meminimalisasi ego dan juga harga yang pantas. Di satu sisi keris adalah barang seni hasil kebudayaan yang sulit diukur dengan uang. Wajar saja jika melihat keris yang tampilan dan bilahnya bagus akan bersifat reaktif dengan langsung membelinya. Sementara di sisi lain, keris juga harus bisa ditakar dengan kantong, kepentingan, prioritas dan jumlah uang yang dikeluarkan. Jika membeli keris yang bagus dengan hitungan jutaan rupiah pada jaman ini adalah termasuk normal. Membeli dengan belasan juta rupiah, berarti anda membeli karya seni. Membeli dengan harga puluhan juta rupiah, anda harus berpikir tentang investasi. membeli dengan harga ratusan juta, berarti anda membeli mimpi dan dongeng dari sebilah keris yang belum tentu sepantas dan selayak itu secara fisik. Jadi, sudah cocok atau belum keris anda sekarang ini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar