Rabu, 27 Juli 2011

Keris Dhapur Tilam Sari






[FRS 19] Keris lurus dhapur Tilam Sari pamor Wengkon Akhodiyat, estimasi tangguh Pajang, abad XVI, panjang 33,7cm/berat 210 gram, warangka Gayaman Yogya kayu Kemuning, pendok Bunton lapis emas model Yogya. Sertifikasi Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah.

Dhapur Tilam Sari (bahasa Indonesia: tempat tidur penuh bunga) adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang banyak dijumpai di pulau Jawa. Bentuk keris itu sangat serupa dengan dhapur Tilam Upih yakni sama-sama memiliki gandik polos ukuran normal, tikel alis dan pejetan. Bedanya keris dhapur Tilam Sari memakai tingil yakni tonjolan kecil di ekor ganja, sementara dhapur Tilam Upih tidak menggunakan tingil. Bilah dhapur Tilam Sari umumnya tipis, permukaannya rata karena tidak memakai ada-ada maupun gusen. Sebagian pecinta keris beranggapan bahwa dhapur Tilam Sari baik untuk pria yang telah berkeluarga karena angsarnya membawa keteduhan dan ketentraman keluarga.

Pamor Wengkon (bahasa Indonesia: bingkai) atau disebut juga Tepen (bahasa Indonesia: tepi) adalah nama pamor yang gambarnya menyerupai bentuk bingkai di sepanjang tepi bilah keris. Pamor ini tergolong pamor rekan, yakni pamor yang bentuknya dirancang lebih dahulu oleh empunya. Dari cara pembuatannya, pamor Wengkon ada dua macam yakni pamor mlumah dan pamor miring. Oleh mereka yang percaya aspek esoteri keris, pamor ini dinilai mempunyai tuah untuk membantu pemiliknya lebih hemat, tahan segala godaan, dan manfaat lainnya. Pamor ini tergolong tidak pemilih, siapa saja dapat memilikinya. Walau tampaknya sederhana, pamor Wengkon termasuk sulit dibuat. Hanya empu yang sudah banyak pengalaman yang sanggup membuat pamor ini secara konstan berjarak tetap dengan garis tepi bilah.

Sedangkan pamor Akhodiyat adalah bagian dari kelompok pamor yang memiliki kecemerlangan yang lebih pada daripada pamor disekitarnya di permukaan bilah. Bagian yang lebih cemerlang atau berkilau itu itu disebut pamor Akhodiyat yang tampak seperti lelehan logam keperak-perakan. Pamor akhodiyat terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan atau pada tahap akhir penempaan. Dengan demikian pamor tersebut bukan terbuat dari logam perak seperti yang diduga banyak orang. Pamor Akhodiyat tergolong pamor tiban yang tidak direncanakan dan seringkali pamor ini disebut juga pamor Akordiat atau Kodiat. Orang Madura dan Jawa Timur menyebutnya dengan Pamor Deling.

Keris koleksi saya diatas memiliki garis pamor yang cukup tebal dan tidak terputus dikedua sisi. Hanya saja saya masih belum bisa membedakan apakah pamor tersebut tergolong pamor mlumah (pamor yang lapisan besinya sejajar dengan permukaan keris) atau pamor miring (pamor yang lapisan besinya tegal lurus dengan permukaan bilah keris) mengingat ganjanya wulung atau berwarna hitam, sehingga tidak dapat dilihat begitu saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar