Selasa, 28 Juni 2011

Keris Dhapur Sengkelat (2)














[FRS 06] Keris Luk 13 Dhapur Sengkelat Pamor Buntel Mayit estimasi tangguh Madura Kamardikan abad XX, berat 240 gram, panjang 35,2cm, Hulu gaya Yogya, Warangka dan gandar gaya Yogya Kayu Kemuning. Sertifikasi Museum Pusaka TMII.

Keris Kamardikan biasanya memiliki garapan baik halus maupun kasar. Keris koleksi saya di atas adalah keris tangguh Madura dengan garapan kasar; panjang bilahnya berukuran standar tapi cukup berat dan sebenarnya tidak seimbang dengan warangka dan hulu berbahan kayu kemuning. Jika diperhatikan maka sebenarnya bagian ganja tidak sepenuhnya masuk ke dalam warangka. Mengapa demikian? karena ukuran warangka jaman sekarang adalah standar dan tergantung kepada bilahnya. Dengan kata lain, bilah panjang (biasanya maksimal 37-38cm) atau pendek tetap masuk dalam warangka yang sama. Kayu kemuning sangat lunak dan idealnya bisa disetel untuk bilah seperti apapun. Hanya saja, kayu kemuning yang digunakan untuk warangka juga sudah tipis sehingga sulit untuk dibuat lebih tipis lagi. Alternatif lain dengan memasang pendok juga tidak memungkinkan karena sebaliknya akan membuat warangka menjadi tebal. Akhirnya dengan situasi apa adanya, keris di atas masuk ke dalam warangka. Pita merah yang ada bukanlah apa-apa, melainkan sekedar menutup batas kayu antara gandar dengan bilah warangka, karena warangka di atas bukan jenis iras yang menyatu antara keduanya.

Ciri lain dari tangguh Madura era Kamardikan dengan garapan kasar seperti di atas adalah rengkol luknya cukup kaku, bagian sorsoran juga kaku dan tebal, sementara ri pandan dan tingil di ganja bagian belakang juga masih utuh. Pamor juga 'nyekrak' atau berkilau karena bahan nikel yang digunakan cukup banyak, sementara permukaan bilah juga kasar disebabkan jenis pasir besi yang dipakai sebagai bahan keris. Perpaduan bahan tersebut juga memperlihatkan bentuk pamor yang melilit juga menyisakan patahan ketika berbalik ke sisi bilah yang berseberangan.

Pamor Buntel Mayit atau Gubet yang melilit bilah adalah pamor rekan atau buatan. Jaman dahulu pamor jenis ini dihindari oleh banyak orang karena dianggap mempunyai tuah buruk dan pemilih. Jika cocok, maka pamor ini dianggap bisa mendatangkan kekayaan atau kesuksesan bagi pemiliknya. Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pamor Buntel Mayit memiliki tuah untuk menundukkan orang yang berangasan/pemarah. Terlepas dari persepsi demikian, pada masa sekarang pamor Buntel Mayit justru banyak dicari orang. Mungkin karena semakin dihindari, justru makin banyak juga orang yang penasaran. Akibatnya pasar juga memberikan peluang dengan membuat keris-keris baru dengan pamor seperti itu. Untuk saya pribadi, lebih berpendapat bahwa pamor tersebut awalnya bernama Buntel Mayat, karena mayat dalam bahasa Jawa berarti miring. Jadi sebenarnya definisi yang dimaksud adalah pamor yang melilit (buntel) dan miring (mayat) dari pangkal hingga ujung tosan aji. Pemahaman dengan bahasa Indonesia menyebabkan kata mayat atau jenazah atau tubuh yang sudah mati itu ditafsirkan kembali dengan padanan bahasa Jawanya yakni Mayit. Hal ini sangat menarik dan bisa ditelusuri lebih dalam, meski pada titik ini sudah ada kejelasan dari aspek etimologi atau asal-usul kata. Tujuannya adalah untuk mengupas mitos sehingga sekurangnya mendapatkan kejelasan awal mengapa pamor tersebut dulu dihindari dan sekarang justru malah dicari.

Pembelajaran yang terpenting dengan memiliki satu atau dua keris Kamardikan adalah dapat mengetahui perbedaan-perbedaannya dibandingkan keris sepuh. Hal ini penting karena pembelajaran tidak dapat sepenuhnya diresapi hanya dengan mendengar cerita saja sebagai informasi, tetapi juga memegang, merasakan dan bisa mengetahui perbedaan di antara keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar